Diserang Sekelompok Orang, Dua Mahasiswa Tewas

Beritakendari.com-Kamis (9/9/2011) Aksi kekerasan di Jalan HE Mokodompit tepatnya didepan Kampus Universitas Haluoleo (Unhalu) Kendari, Sulawesi Tenggara Kamis malam (8/9) merenggut korban jiwa. Korbannya dua mahasiswa perguruan tinggi itu, masing-masing La Ode Muh Hijrah, mahasiswa Jurusan Fisika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) angkatan 2007, dan Zainuddin mahasiswa Fakultas Pertanian angkatan 2005. Keduanya tewas dengan luka tusukan akibat diserang dengan menggunakan senjata tajam oleh sekelompok orang bersepeda motor.

Belum jelas apa yang melatari aksi penyerangan yang merenggut nyawa kedua korban, namun dugaan sementara insiden ini merupakan rentetan dari aksi-aksi kekerasan yang terjadi sebelumnya di wilayah itu. “Korbannya dua orang meninggal dunia akibat diserang sekelompok orang tak dikenal dengan menggunakan senjata tajam. Penyebabnya masih kita dalami,”terang Direskrim Polda Sulawesi Tenggara, Kombes Pol Iswandi Hari, di RS Bhayangkara Kamis malam (8/9).

Sebelum dilarikan ke RS Bhayangkara, dalam kondisi bersimbah darah La Ode Muh Hijrah sempat dievakuasi oleh sejumlah warga kerumah pamannya di Lorong Mata Air. Saat itu korban sudah tak bisa lagi berbicara selain hanya mengeluh kesakitan. “Dia mengalami luka tusukan dibagian pinggang belakang dan kemungkinannya mengarah pada ginjal”ujar La Ode Nggawu, paman korban.

Dengan menggunakan mobil miliknya, La Ode Nggawu kemudian melarikan korban ke RS Bhayangkara, namun nyawa korban tak bisa diselamatkan. Korban menghembuskan nafas terakhir saat tiba di RS lantaran mengalami pendarahan. Sementara korban lainnya, Zainuddin ditemukan dilokasi berbeda. Pihak keluarga sendiri tidak mengetahui pasti lokasi ditemukannya korban, namun pihak keluarga tiba-tiba mendapat informasi dari pihak kepolisian jika korban telah dievakuasi ke RS Bhayangkara.

Insiden yang merenggut nyawa kedua korban ini menimbulkan duka mendalam bagi keluarga dan sahabat mereka sesama mahasiswa. Lina, kakak korban Zainuddin bahkan sempat histeris hingga tak sadarkan diri saat mengetahui kejadian ini. Baik keluarga maupun rekan-rekan kedua korban seolah tak percaya kedua korban akan mengalami nasib tragis seperti ini.

Hingga malam ini, situasi disekitar jalan HE Mokodompit masih mencekam. Pasca insiden itu, ratusan personil Brimob dan Kepolisian dikerahkan untuk menyisir disekitar tempat kejadian termasuk disekitar areal kampus guna mencari para pelaku penyerangan terhadap kedua korban. Aparat juga melakukan pengamanan ekstra ketat dijalan-jalan termasuk menggelar patroli. Seorang pemuda sempat diamankan lantaran kedapatan membawa senjata tajam. Sementara jenazah kedua korban hingga kini masih berada di ruang jenazah Rumah Sakit Bhayangkara. Ratusan keluarga korban pun berdatangan untuk menjemput jenazah keduanya.

Aksi Kekerasan Rampas Rasa Nyaman Warga Disekitar Kampus

Beritakendari.com-Jumat (9/9/2011) Aksi kekerasan yang diperankan oleh sekelompok orang bersenjata tajam hingga merenggut nyawa dua mahasiswa Universitas Haluoleo (Unhalu) pada Kamis malam (8/9), menyisakan trauma dan ketakutan mendalam bagi warga yang bermukim disekitar Jalan HE Mokodompit, tepatnya didepan Kampus Bumi Tridharma Universitas Haluoleo, Kendari, Sulawesi Tenggara. Selain rasa nyaman yang terenggut, warga juga mulai memikirkan keselamatan keluarga dan anak-anak mereka termasuk rencana untuk hidup jangka panjang didaerah itu.

Rasa tidak nyaman inipun membuat warga yang bermukim disekitar Jalan HE Mokodompit bahkan harus menutup pintu rumah walau disiang hari sekalipun. Sementara sebagian mahasiswa yang tinggal di rumah-rumah kost, mulai berinisiatif untuk mengungsikan diri kerumah sanak keluarga mereka yang tinggal diluar areal kampus, walau sebagian masih ada yang mencoba bertahan. “Untuk apa saya tinggal disini, saya ini terbiasa hidup nyaman,”tukas Putri, mahasiswa FKIP semester akhir sesaat sebelum naik kemobil angkutan.

Aksi kekerasan sekelompok orang hingga merenggut nyawa La Ode Muh Hijrah, mahasiswa Jurusan Fisika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) angkatan 2007, dan Zainuddin mahasiswa Fakultas Pertanian angkatan 2005, sangat disayangkan oleh warga setempat. Pasalnya, dalam suasana ketakutan warga sempat mendengar teriakan-teriakan saat insiden itu terjadi, namun secara bersamaan warga tak berani beranjak dari dalam rumah selain hanya bertahan didalam kamar dengan degup jantung yang tidak beraturan. “Kita dengar ada teriakan-teriakan tapi kita takut sehingga kita hanya matikan lampu saja dan menutup rapat pintu rumah,”ujar Hj Ramlah, salah satu pemilik rumah kost di Jalan HE Mokodompit.

Sebenarnya insiden semacam ini tidak perlu terjadi andai aparat kepolisian lebih sigap dan cepat bertindak antisipatif. Pasalnya, aksi-aksi kekerasan yang terjadi di wilayah itu sudah kerap terjadi dan terus berulang namun para pelaku nyaris tidak tersentuh hukum. Warga pun menyerukan agar kepolisian segera menindak tegas para pelaku agar insiden serupa tidak terus berulang apalagi sampai mengorbankan pihak yang tidak tau apa-apa. “Saya disini sudah 10 tahun menetap tapi baru kali ini saya benar-benar merasa tidak nyaman. Dengan kejadian ini, kami sebagai warga meminta kepada aparat penegak hukum agar bertindak tegas apalagi ini sudah ada korban,”ujar Ramlah.

Selain soal kenyamanan, warga juga kini mulai memikirkan keselamatan keluarga dan anak-anak mereka, takut tiba-tiba menjadi sasaran aksi kekerasan dan kebrutalan. Bayang-bayang ini, membuat warga kini mulai memutar otak dan berfikir ulang untuk membangun hidup jangka panjang diwilayah itu. “Anak-anak semua sekarang ketakutan, apalagi tadi malam waktu kejadian ada satu orang anak saya yang pergi main basket terpaksa dilarang oleh ayahnya pulang kerumah karena suasana disini sudah mencekam sehingga dia harus menginap dirumah saudara diluar,”terang Aminah, warga lainnya.

Menurut Aminah, situasi ini tentu tidak positif apalagi bagi kondisi psikis 4 buah hatinya yang sebagian masih sangat belia. “Kita disini sulit, karena hidup dalam kondisi aman dan tidak aman. Kalau lagi aman ya kita cukup tenang, tapi kalau sudah lagi rebut apalagi pada malam hari, kita harus menutup rapat pintu rumah,”ujarnya.

Baik Aminah maupun warga lainnya berharap, agar aksi-aksi kekerasan diwilayah itu segera diakhiri dan bila perlu tidak lagi terjadi, apalagi sampai merenggut korban jiwa. “Kita disini hanya mau hidup nyaman karena kalau kondisinya tidak aman begini, bisa saja saya bersama keluarga mencari tempat tinggal lain,”imbuhnya.

Dalam Penyelidikan

Sementara itu, untuk mencegah aksi kekerasan berulang, ratusan personil kepolisian pun kini ditempatkan disekitar Jalan HE Mokodompit untuk berjaga-jaga. Polisi juga secara rutin terus menggelar patroli guna memberi kenyamanan bagi warga sekitar. Sejauh ini, pihak kepolisian belum berhasil melacak dan mengungkap pelaku kekerasan yang merenggut nyawa 2 orang mahasiswa itu. “Kami perlu tegaskan, kasus ini murni kriminal dan tidak unsur lain termasuk aksi balas dendam,”ujar Kabid Humas Polda Sultra, AKBP Fachrurrozi, Kamis siang (9/9) di Mapolda Sultra.

Tidak adanya tindakan tegas dan lambannya kinerja kepolisian dalam merespon berbagai aksi-aksi kekerasan yang terjadi di Jalan He Mokodompit selama ini, membuat warga pun kini mempertanyakan kinerja institusi penegak hukum itu. Bila tidak ingin mendapat kecaman publik, kepolisian pun kini dituntut untuk bergerak cepat mengungkap dan menangkap seluruh aktor-aktor dibalik aksi kekerasan yang terjadi diwilayah itu. “Selama ini kami sudah berupaya maksimal melakukan upaya pendindakan termasuk pencegahan agar aksi-aksi kekerasan tidak terus berulang dan ini menjadi konsen kami,”tandas Fachrurrozi.

Walikota Kendari mengutuk pembunuhan brutal di sekitar Kampus Universitas Haluoleo

Liputan6.com, Kendari: Walikota Kendari, Sulawesi Tenggara, Asrun, mengutuk pembunuhan brutal di sekitar Kampus Universitas Haluoleo (Unhalu), kemarin petang. Ia memerintahkan polisi mengusut tuntas dan menindak tegas para pelaku pembunuhan yang tak manusiawi itu. "Selaku pemerintah Kota Kendari, saya mengutuk pelaku pembunuhan mahasiswa Unhalu tersebut," kata Asrun seperti diwartakan Antara, Jumat (9/9). Asrun juga mengucapkan belasungkawanya terhadap korban insiden tersebut. Ia berharap keluarga korban dapat menahan diri dan tabah menghadapi cobaan itu. Asrun mengimbau masyarakat Kendari tidak terpancing oleh insiden itu. "Hal yang brutal tidak akan selesai jika diselesaikan secara brutal pula, sehingga kita harus menahan diri dan menyerahkan sepenuhnya kepada polisi agar secepatnya pengungap dan menagkap pelakunya," ujarnya. Dua mahasiswa yang tewas adalah LM Hijra dan Udin. Hijra yang tinggal di Asrama Kalbu, Lorong Perintis Jalan EA Mokodompit, mengalami luka tusuk di pinggang sebelah kiri. Ia adalah mahasiswa Jurusan Fisika FKIP Unhalu. Sedangkan Udin, tinggal di Lorong Kusuma Jalan EA Mokodompit depan Kampus Unhalu, luka di leher, tercatat sebagai mahasiswa pertanian Unhalu. Jenazah kedua korban, saat ini masih berada kamar jenazah di Rumah Sakit Bayangkara Kendari

Polri Telusuri Pembunuh Dua Mahasiswa di Kendari

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Divisi Humas Polri Irjen Anton Bachrul Alam mengungkapkan saat ini Kepolisian Daerah Kendari, Sulawesi Tenggara tengah mengejar pelaku kasus pembunuhan dua mahasiswa dari Universitas Haluoleo (Unhalu). Dua korban itu Laode Muhammad dan Udin mendapatkan luka tusukan dari sekelompok orang tak dikenal saat berada di sekitar kampusnya. "Kejadian dilakukan oleh enam orang bersepeda motor langsung menusukan senjata tajam kepada korban, sehingga keduanya meninggal. Saat ini masih dikejar pelakunya, masih penyelidikan, dan pemeriksaan lima saksi serta pengolahan TKP," ujar Anton di Gedung Mabes Polri, Jumat (9/9/2011). Identitas pelaku pun, kata Anton saat ini belum diketahui. Sementara ini motif yang berkembang, penusukan terjadi karena masalah antarkelompok tertentu. "Mungkin antarkelompok ada yang tidak senang dan sebagainya. Ini masih berkembang. Kita tunggu enam orang pelaku ini siapa saja," tukas Anton. Seperti yang diketahui, kejadian tersebut terjadi di sekitar Kampus Universitas Haluoleo (Unhalu) Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis,(8/9/2011), sekitar pukul 18.30 WITA. Dua korban diidentifikasi sebagai mahasiswa universitas tersebut. Korban bermana Laode tinggal di Asrama Kalbu, Lorong Perintis Jalan EA Mokodompit. Ia mengalami luka tusuk di pinggang sebelah kiri. Ia adalah mahasiswa Jurusan Fisika FKIP Unhalu. Sedangkan korban kedua bernama Udin, tinggal di Lorong Kusuma Jalan EA Mokodompit depan Kampus Unhalu, mengalami luka di leher. Dia tercatat sebagai mahasiswa Pertanian Unhalu.

Kendari Berdarah



Saya mau posting sedikit tentang kondisi Kendari di malam yang dingin ini, aku sendiri, tiada yang menemani..... Hahaha... Apalagi di malam ini sudah beberapa kali saya mendengar letusan senjata api yang memekakan telinga tatkala saya sedang menyiar. Hmm, sepertinya sudah semakin parah saja konflik antar suku yang terjadi di Kota Kendari tercinta ini. Mungkin inilah dampak dari sukuisme yang menjamur di Kendari dan mereka yang belum sadar akan arti persatuan, dengan gagahnya menggenggam busur, mengacungkan parang, dan menarik pelatuk senjatanya masing-masing. Itukah bentuk penyelesaian afdol yang kita harapkan? Atau hanya sebatas emosi dari manusia labil yang imannya menipis? Perlu dipertanyakan, mereka manusia atau bukan. Sebab, manusia tidak akan menjadikan kota tercinta ini sebagai lahan untuk berburu mangsa, dan manusia juga tidak membunuh sesama manusia, kecuali BINATANG. Budaya sukuisme sudah dipupuk sejak jauh-jauh hari. Di lingkungan kampus misalnya dalam hal ini Unhalu. Coba lihat dan cermati bersama betapa kentalnya persaingan politik dengan gep suku. Hiiii, mereka tidak malu merangkul 1 sukunya tanpa melihat potensi yang ada pada diri personal yang bakal mereka jadikan khalifah civitas akademika. Semua itu berjalan seolah-olah sudah menjadi hal lumrah, padahal mereka tidak menyadari bahwa semua mata menyaksikan, mencibir, meludahi sikap dan kelakuan mereka yang saya rasa masih seperti anak TK. Anak TK hanya akan bermain dengan santai jika bermain bersama teman yang dikenalnya saja atau tetangganya. Pikiran kita sebagian besar masih berada dalam satu kotak yang menganggap ruang lingkup kehidupannya hanya berada di sekitaran sukunya. Kita tidak berani keluar dari kotak itu dan melihat lebih luas, melihat lebih dalam, melihat lebih cerdas, dan melihat atas asas persatuan. Ini baru satu saja dari pancasila yang saya ungkap. Nah, kita bedah pancasila lebih mendalam. Apakah Indonesia sudah menerapkan 5 sila yang sakral itu???


Pancasila: 

1. Ketuhanan Yang Maha Esa 

Wajib mengesakan Tuhan... Tapi dengan adanya kenikmatan duniawi, uang sudah mengganti posisi Tuhan (naudzubillah). Dari lagu "kupu-kupu malam" saja, penyanyi mengatakan kalo PSK adalah pekerjaan yang belum tentu berdosa. Dalil dari mana??? Walaupun memang uang sebagai raja kehidupan di bumi, tapi belum tentu uang menjadi raja di akhirat. Dunia adalah sebuah panggung, yang di dalamnya memberimu hak untuk memilih, menjadi antagonis, atau pemeran utama...

2. Kemanusiaan yang adil dan beradab 

Apakah anda sudah merasa diperlakukan secara adil? I Don't Think So... Di Indonesia berlaku judul besar kehidupan "Kaya semakin kaya, miskin semakin miskin". Saya takir contoh di Kendari. Orang Ahong menjual alat-alat pertanian yang fakturnya tidak jelas. Menaikan harga alat-alat pertanian dengan harga maksimum, pemantau pasarpun belum terlihat bekerja dengan efektif. Akhirnya para petani yang seharusnya menjadi orang terkaya di Indonesia, kini hasil pertaniannya pun sulit mereka nikmati, rumah cuma gubuk, anak2 mereka menjadi pengangguran, baju compang-camping, dan badan mereka kurusnya bukan main. Sudah saatnya masyarakat Kendari menjadi konsumen yang cerdas. Jangan mau dibodo-bodoi dengan orang luar.

3. Persatuan Indonesia

Sejak saya SD kelas 3, saya sudah pernah menanyakan kepada guru saya. Apakah Indonesia bisa bersatu dengan kondisi wilayah berpisah satu sama lain. Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, dan Irian Jaya. Bullshit! Setiap pulau pasti punya ego masing2, contohnya saja Aceh yang sampe sekarang merasa kecewa dengan Jawa, Papua yang terisolir karena adat yang jauh berbeda, dan masih banyak lagi. Semua pembangunan lariiiii ke Jawa mengatasnamakan Otonomi daerah. Masih mau menyangkal? Kenapa seh kalo presiden datang ke Kendari jalan raya otomatis bagus? Dasar Penjilad! "Yang punya wewenang dan kekuasaan atas negeri ini bukan presiden, melainkan rakyatmu bego"

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan, dalam permusyawaratan perwakilan

Saya semakin panas membicarakan hal ini, hehe. Katanya seh musyawarah. Saya ajar kalian sedikit tentang musyawarah yang saya dapat di pelajaran PPKN kelas 2 Sekolah Dasar. Musyawarah itu kesepakatan yang dibangun dengan sikap suportif, tidak didominasi oleh yang kuat, dan semua forum sepakat dengan keputusan itu atas pertimbangan yang matang bozzz. Lihat saja di gedung dewan, ckckck. Berantem men, bentak-bentak men, tidur men, pas ada keputusan yang berbeda dengan si doi, atas nama kepentingan partai doipun menolak dengan kasar, bahkan doipun tidak berpikir apakah keputusan dari partai bullshitnya itu sama gak dengan keinginan rakyat? Saya rasa keinginan sebagian besar rakyat seh sudah jelas, cuma doi-doi saja yang memperdebatkan panjaaaaaang lebar. Untuk apa coba?

5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia

Adil itu Haruslah menurut Allah, karena tidak ada yang lebih adil kecuali Allah. Namun Allah telah meberikan koridor bahwa Adil itu proporsional, tidak ada satupun yang di dzalimi ketika manusia menuntut sama rata maka itu adalah refleksi pemikiran Adil logika manusia yang dipengaruhi latar belakang dan berbagai kepentingan. Jadi Adil itu ketika Allah SWT Ridha... bukan kita yang memaksa Allah harus Ridha. Taunya Allah ridha atau tidak adalah Qur'an dan Sunnah. anda tau khan mengapa dalam Al-Qur'an hak waris Laki-Laki lebih besar dari perempuan? nah itulah Konsep proporsional dalam Adil . laki-Laki lebih besar tanggungannya dari wanita. Mengapa Laki-Laki boleh poligami Wanita Tidak? apakah Tuhan tidak adil? . Inilah refleksi Tuntutan Adil manusia yang Tidak beriman kepada Allah. Sedangkan yang beriman senantiasa Positif Thinking bahwa dibalik itu semua pasti ada hikmah.

Semoga negara ini bisa lebih baik
Semoga Kendari akan aman dan tidak rusuh lagi
Semoga pengorbanan pahlawan tidak sia-sia di tangan penerusnya
Semoga Allah swt. meridhoi negara ini

Metode Epidemiologi

Didalam epidemiologi terdapat 2 tipe pokok pendekatan atau metode, yakni :  

1. EPIDEMIOLOGI DESKRIPTIF  

Didalam epidemiologi deskriptif dipelajari bagaimana frekuensi penyakit berubah menurut perubahan variabel-variabel epidemiologi yang terdiri dari orang (person), tempat (place) dan waktu (time).  

A. Orang (Person) Disini akan dibicarakan peranan umur, jenis kelamin, kelas sosial, pekerjaan, golongan etnik, status perkawinan, besarnya keluarga, struktur keluarga dan paritas.  

1. Umur  

Umur adalah variabel yang selalu diperhatikan didalam penyelidikan-penyelidikan epidemiologi. Angka-angka kesakitan maupun kematian didalam hampir semua keadaan menunjukkan hubungan dengan umur. Dengan cara ini orang dapat membacanya dengan mudah dan melihat pola kesakitan atau kematian menurut golongan umur. Persoalan yang dihadapi adalah apakah umur yang dilaporkan tepat, apakah panjangnya interval didalam pengelompokan cukup untuk tidak menyembunyikan peranan umur pada pola kesakitan atau kematian dan apakah pengelompokan umur dapat dibandingkan dengan pengelompokan umur pada penelitian orang lain. Didalam mendapatkan laporan umur yang tepat pada masyarakat pedesaan yang kebanyakan masih buta huruf hendaknya memanfaatkan sumber informasi seperti catatan petugas agama, guru, lurah dan sebagainya. Hal ini tentunya tidak menjadi soal yang berat dikala mengumpulkan keterangan umur bagi mereka yang telah bersekolah. Untuk keperluan perbandingan maka WHO menganjurkan pembagian-pembagian umur sebagai berikut :  

a. Menurut tingkat kedewasaan: 0 – 14 tahun : bayi dan anak-anak, 15 – 49 tahun : orang muda dan dewasa, 50 tahun keatas : orang tua. b. Interval 5 tahun: Kurang 1 tahun, 1 – 4 tahun, 5 – 9 tahun, 10 – 14 tahun, dan sebagainya. c. Untuk mempelajari penyakit anak: 0 – 4 bulan, 5 – 10 bulan, 11 – 23 bulan, 2 – 4 tahun, 5 – 9 tahun, 10 – 14 tahun.  

2. Jenis Kelamin  

Angka-angka dari luar negeri menunjukkan bahwa angka kesakitan lebih tinggi dikalangan wanita sedangkan angka kematian lebih tinggi dikalangan pria, juga pada semua golongan umur. Untuk Indonesia masih perlu dipelajari lebih lanjut. Perbedaan angka kematian ini, dapat disebabkan oleh faktor-faktor intinsik. Yang pertama diduga meliputi faktor keturunan yang terkait dengan jenis kelamin atau perbedaan hormonal sedangkan yang kedua diduga oleh karena berperannya faktor-faktor lingkungan (lebih banyak pria mengisap rokok, minum minuman keras, candu, bekerja berat, berhadapan dengan pekerjaan-pekerjaan berbahaya, dan seterusnya). Sebab-sebab adanya angka kesakitan yang lebih tinggi dikalangan wanita, di Amerika Serikat dihubungkan dengan kemungkinan bahwa wanita lebih bebas untuk mencari perawatan. Di Indonesia keadaan itu belum diketahui. Terdapat indikasi bahwa kecuali untuk beberapa penyakit alat kelamin, angka kematian untuk berbagai penyakit lebih tinggi pada kalangan pria.  

3. Kelas Sosial  

Kelas sosial adalah variabel yang sering pula dilihat hubungannya dengan angka kesakitan atau kematian, variabel ini menggambarkan tingkat kehidupan seseorang. Kelas sosial ini ditentukan oleh unsur-unsur seperti pendidikan, pekerjaan, penghasilan dan banyak contoh ditentukan pula oleh tempat tinggal. Karena hal-hal ini dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan termasuk pemeliharaan kesehatan maka tidaklah mengherankan apabila kita melihat perbedaan-perbedaan dalam angka kesakitan atau kematian antara berbagai kelas sosial. Masalah yang dihadapi dilapangan ialah bagaimana mendapatkan indicator tunggal bagi kelas sosial. Di Inggris, penggolongan kelas sosial ini didasarkan atas dasar jenis pekerjaan seseorang yakni I (profesional), II (menengah), III (tenaga terampil), IV (tenaga setengah terampil) dan V (tidak mempunyai keterampilan). Di Indonesia dewasa ini penggolongan seperti ini sulit oleh karena jenis pekerjaan tidak memberi jaminan perbedaan dalam penghasilan. Hubungan antara kelas sosial dan angka kesakitan atau kematian kita dapat mempelajari pula dalam hubungan dengan umur, kelamin.  

4. Jenis Pekerjaan  

Jenis pekerjaan dapat berperan didalam timbulnya penyakit melalui beberapa jalan yakni :  

a. Adanya faktor-faktor lingkungan yang langsung dapat menimbulkan kesakitan seperti bahan-bahan kimia, gas-gas beracun, radiasi, benda-benda fisik yang dapat menimbulkan kecelakaan dan sebagainya.  

b. Situasi pekerjaan yang penuh dengan stress (yang telah dikenal sebagai faktor yang berperan pada timbulnya hipertensi, ulkus lambung).  

c. Ada tidaknya “gerak badan” didalam pekerjaan; di Amerika Serikat ditunjukkan bahwa penyakit jantung koroner sering ditemukan di kalangan mereka yang mempunyai pekerjaan dimana kurang adanya “gerak badan”.  

d. Karena berkerumun di satu tempat yang relatif sempit maka dapat terjadi proses penularan penyakit antara para pekerja.  

e. Penyakit karena cacing tambang telah lama diketahui terkait dengan pekerjaan di tambang.
 

Penelitian mengenai hubungan jenis pekerjaan dan pola kesakitan banyak dikerjakan di Indonesia terutama pola penyakit kronis misalnya penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan kanker. Jenis pekerjaan apa saja yang hendak dipelajari hubungannya dengan suatu penyakit dapat pula memperhitungkan pengaruh variabel umur dan jenis kelamin.  

5. Penghasilan.  

Yang sering dilakukan ialah menilai hubungan antara tingkat penghasilan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan maupun pencegahan. Seseorang kurang memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada mungkin oleh karena tidak mempunyai cukup uang untuk membeli obat, membayar transport, dan sebagainya.  

6. Golongan Etnik  

Berbagai golongan etnik dapat berbeda didalam kebiasaan makan, susunan genetika, gaya hidup dan sebagainya yang dapat mengakibatkan perbedaan-perbedaan didalam angka kesakitan atau kematian. Didalam mempertimbangkan angka kesakitan atau kematian suatu penyakit antar golongan etnik hendaknya diingat kedua golongan itu harus distandarisasi menurut susunan umur dan kelamin ataupun faktor-faktor lain yang dianggap mempengaruhi angka kesakitan dan kematian itu. Penelitian pada golongan etnik dapat memberikan keterangan mengenai pengaruh lingkungan terhadap timbulnya suatu penyakit. Contoh yang klasik dalam hal ini ialah penelitian mengenai angka kesakitan kanker lambung. Didalam penelitian mengenai penyakit ini di kalangan penduduk asli di Jepang dan keturunan Jepang di Amerika Serikat, ternyata bahwa penyakit ini menjadi kurang prevalen di kalangan turunan Jepang di Amerika Serikat. Ini menunjukkan bahwa peranan lingkungan penting didalam etiologi kanker lambung.  

7. Status Perkawinan  

Dari penelitian telah ditunjukkan bahwa terdapat hubungan antara angka kesakitan maupun kematian dengan status kawin, tidak kawin, cerai dan janda; angka kematian karena penyakit-penyakit tertentu maupun kematian karena semua sebab makin meninggi dalam urutan tertentu. Diduga bahwa sebab-sebab angka kematian lebih tinggi pada yang tidak kawin dibandingkan dengan yang kawin ialah karena ada kecenderungan orang-orang yang tidak kawin kurang sehat. Kecenderungan bagi orang-orang yang tidak kawin lebih sering berhadapan dengan penyakit, atau karena adanya perbedaan-perbedaan dalam gaya hidup yang berhubungan secara kausal dengan penyebab penyakit-penyakit tertentu.  

8. Besarnya Keluarga  

Didalam keluarga besar dan miskin, anak-anak dapat menderita oleh karena penghasilan keluarga harus digunakan oleh banyak orang.  

9. Struktur Keluarga  

Struktur keluarga dapat mempunyai pengaruh terhadap kesakitan (seperti penyakit menular dan gangguan gizi) dan pemanfaatan pelayanan kesehatan. Suatu keluarga besar karena besarnya tanggungan secara relatif mungkin harus tinggal berdesak-desakan didalam rumah yang luasnya terbatas hingga memudahkan penularan penyakit menular di kalangan anggota-anggotanya; karena persediaan harus digunakan untuk anggota keluarga yang besar maka mungkin pula tidak dapat membeli cukup makanan yang bernilai gizi cukup atau tidak dapat memanfaatkan fasilitas kesehatan yang tersedia dan sebagainya.  

10. Paritas  

Tingkat paritas telah menarik perhatian para peneliti dalam hubungan kesehatan si ibu maupun anak. Dikatakan umpamanya bahwa terdapat kecenderungan kesehatan ibu yang berparitas rendah lebih baik dari yang berparitas tinggi, terdapat asosiasi antara tingkat paritas dan penyakit-penyakit tertentu seperti asma bronchiale, ulkus peptikum, pilorik stenosis dan seterusnya. Tapi kesemuanya masih memerlukan penelitian lebih lanjut.  

B. Tempat (Place)  

Pengetahuan mengenai distribusi geografis dari suatu penyaki berguna untuk perencanaan pelayanan kesehatan dan dapat memberikan penjelasan mengenai etiologi penyakit. Perbandingan pola penyakit sering dilakukan antara:  

1. Batas daerah-daerah pemerintahan  

2. Kota dan pedesaan  

3. Daerah atau tempat berdasarkan batas-batas alam (pegunungan, sungai, laut atau padang pasir)  

4. Negara-negara  

5. Regional  

Untuk kepentingan mendapatkan pengertian tentang etiologi penyakit, perbandingan menurut batas-batas alam lebih berguna daripada batas-batas administrasi pemerintahan. Hal-hal yang memberikan kekhususan pola penyakit di suatu daerah dengan batas-batas alam ialah: keadaan lingkungan yang khusus seperti eperatur, kelembaban, turun hujan, ketinggian diatas permukaan laut, keadaan tanah, sumber air, derajat isolasi terhadap pengaruh luar yang tergambar dalam tingkat kemajuan ekonomi, pendidikan, industri, pelayanan kesehatan, bertahannya tradisi-tradisi yang merupakan hambatan-hambatan pembangunan, faktor-faktor sosial budaya yang tidak menguntungkan kesehatan atau pengembangan kesehatan, sifat-sifat lingkungan biologis (ada tidaknya vektor penyakit menular tertentu, reservoir penyakit menular tertentu, dan susunan genetika), dn sebagainya. Pentingnya peranan tempat didalam mempelajari etiologi suatu penyakit menular dapat digambar dengan jelas pada penyelidikan suatu wabah, yang akan diuraikan nanti.  

Didalam membicarakan perbedan pola penyakit antara kota dan pedesaan, faktor-faktor yang baru saja disebutkan diatas perlu pula diperhatikan. Hal lain yang perlu diperhatikan selanjutnya ialah akibat migrasi ke kota atau ke desa terhadap pola penyakit, di kota maupun di desa itu sendiri. Migrasi antar desa tentunya dapat pula membawa akibat terhadap pola dan penyebaran penyakit menular di desa-desa yang bersangkutan maupun desa-desa di sekitarnya. Peranan migrasi atau mobilitas geografis didalam mengubah pola penyakit di berbagai daerah menjadi lebih penting dengan makin lancarnya perhubungan darat, udara dan laut; lihatlah umpamanya penyakit demam berdarah.  

Pentingnya pengetahuan mengenai tempat dalam mempelajari etiologi suatu penyakit dapat digambarkan dengan jelas pada penyelidikan suatu wabah dan pada menyelidikan-penyelidikan mengenai kaum migran. Didalam memperbandingkan angka kesakitan atau angka kematian antar daerah (tempat) perlu diperhatikan terlebih dahulu di tiap-tiap daerah (tempat):  

1. Susunan umur  

2. Susunan kelamin  

3. Kualitas data  

4. Derajat representatif dari data terhadap seluruh penduduk.  

Walaupun telah dilakukan standarisasi berdasarkan umur dan jenis kelamin, memperbandingkan pola penyakit antar daerah di Indonesia dengan menggunakan data yang berasal dari fasilitas-fasilitas kesehatan, harus dilaksanakan dengan hati-hati, sebab data tersebut belum tentu representatif dan baik kualitasnya. Variasi geografis pada terjadinya beberapa penyakit atau keadaan lain mungkin berhubungan dengan 1 atau lebih dari beberapa faktor sebagai berikut:  

1. Lingkungan fisis, kemis, biologis, sosial dan ekonomi yang berbeda-beda dari suatu tempat ke tempat lainnya.  

2. Konstitusi genetis atau etnis dari penduduk yang berbeda, bervariasi seperti karakteristik demografi.  

3. Variasi kultural terjadi dalam kebiasaan, pekerjaan, keluarga, praktek higiene perorangan dan bahkan persepsi tentang sakit atau sehat.  

4. Variasi administrasi termasuk faktor-faktor seperti tersedianya dan efisiensi pelayanan medis, program higiene (sanitasi) dan lain-lain.  

Banyaknya penyakit hanya berpengaruh pada daerah tertentu. Misalnya penyakit demam kuning, kebanyakan terdapat di Amerika Latin. Distribusinya disebabkan oleh adanya “reservoir” infeksi (manusia atau kera), vektor (yaitu Aedes aegypty), penduduk yang rentan dan keadaan iklim yang memungkinkan suburnya agen penyebab penyakit. Daerah dimana vektor dan persyaratan iklim ditemukan tetapi tidak ada sumber infeksi disebut “receptive area” untuk demam kuning. Contoh-contoh penyakit lainnya yang terbatas pada daerah tertentu atau yang frekuensinya tinggi pada daerah tertentu, misalnya Schistosomiasis di daerah dimana terdapat vektor snail atau keong (Lembah Nil, Jepang), gondok endemi (endemic goiter) di daerah yang kekurangan yodium.  

C. Waktu (Time)  

Mempelajari hubungan antara waktu dan penyakit merupakan kebutuhan dasar didalam analisis epidemiologis, oleh karena perubahan-perubahan penyakit menurut waktu menunjukkan adanya perubahan faktor-faktor etiologis. Melihat panjangnya waktu dimana terjadi perubahan angka kesakitan, maka dibedakan :  

1. Fluktuasi jangka pendek dimana perubahan angka kesakitan berlangsung beberapa jam, hari, minggu dan bulan.  

Pola perubahan kesakitan ini terlihat pada epidemi umpamanya epidemic keracunan makanan (beberapa jam), epidemi influensa (beberapa hari atau minggu), epidemi cacar (beberapa bulan). Fluktuasi jangka pendek atau epidemi ini memberikan petunjuk bahwa:  

a. Penderita-penderita terserang penyakit yang sama dalam waktu bersamaan atau hampir bersamaan. Waktu inkubasi rata-rata pendek.  

b. Perubahan-perubahan secara siklus dimana perubahan-perubahan angka kesakitan terjadi secara berulang-ulang dengan antara beberapa hari, beberapa bulan (musiman), tahunan, beberapa tahun.  

c. Perubahan-perubahan angka kesakitan yang berlangsung dalam periode waktu yang panjang, bertahun-tahun atau berpuluh tahun yang disebut “secular trends”.
 

2. Perubahan-Perubahan Secara Siklus  

Perubahan secara siklus ini didapatkan pada keadaan dimana timbulnya dan memuncaknya angka-angka kesakitan atau kematian terjadi berulang-ulang tiap beberapa bulan, tiap tahun, atau tiap beberapa tahun. Peristiwa semacam ini dapat terjadi baik pada penyakit infeksi maupun pada penyakit bukan infeksi.  

Timbulnya atau memuncaknya angka kesakitan atau kematian suatu penyakit yang ditularkan melalui vektor secara siklus ini adalah berhubungan dengan :  

1. Ada tidaknya keadaan yang memungkinkan transmisi penyakit oleh vektor yang bersangkutan, yakni apakah temperatur atau kelembaban memungkinkan transmisi.  

2. Adanya tempat perkembangbiakan alami dari vektor sedemikian banyak untuk menjamin adanya kepadatan vektor yang perlu dalam transmisi.  

3. Selalu adanya kerentanan  

4. Adanya kegiatan-kegiatan berkala dari orang-orang yang rentan yang menyebabkan mereka terserang oleh “vektor bornedisease” tertentu.  

5. Tetapnya kemampuan agen infektif untuk menimbulkan penyakit.  

6. Adanya faktor-faktor lain yang belum diketahui. Hilangnya atau berubahnya siklus berarti adanya perubahan dari salah satu atau lebih hal-hal tersebut di atas.
 

Penjelasan mengenai timbulnya atau memuncaknya penyakit menular yang berdasarkan pengetahuan yang kita kenal sebagai bukan vektor borne secara siklus masih jauh lebih kurang dibandingkan dengan vektor borne diseases yang telah kita kenal. Sebagai contoh, belum dapat diterangkan secara pasti mengapa wabah influensa A bertendensi untuk timbul setiap 2-3 tahun, mengapa influensa B timbul setiap 4-6 tahun, mengapa wabah campak timbul 2-3 tahun (di Amerika Serikat).  

Sebagai salah satu sebab yang disebutkan ialah berkurangnya penduduk yang kebal (meningkatnya kerentanan) dengan asumsi faktor-faktor lain tetap. Banyak penyakit-penyakit yang belum diketahui etiologinya menunjukkan variasi angka kesakitan secara musiman. Tentunya observasi ini dapat membantu didalam memulai dicarinya etiologi penyakit-penyakit tersebut dengan catatan-catatan bahwa interpretasinya sulit karena banyak keadaan yang berperan terhadap timbulnya penyakit juga ikut berubah pada perubahan musim, perubahan populasi hewan, perubahan tumbuh-tumbuhan yang berperan tempat perkembangbiakan, perubahan dalam susunan reservoir penyakit, perubahan dalam berbagai aspek perilaku manusia seperti yang menyangkut pekerjaan, makanan, rekreasi dan sebagainya.  

Sebab-sebab timbulnya atau memuncaknya beberapa penyakit karena gangguan gizi secara bermusim belum dapat diterangkan secara jelas. Variasi musiman ini telah dihubung-hubungkan dengan perubahan secara musiman dari produksi, distribusi dan konsumsi dari bahan-bahan makanan yang mengandung bahan yang dibutuhkan untuk pemeliharaan gizi maupun keadaan kesehatan individu-individu terutama dalam hubungan dengan penyakit-penyakit infeksi dan sebagainya.  

2. EPIDEMIOLOGI ANALITIK.  

Pendekatan atau studi ini dipergunakan untuk menguji data serta informasi-informasi yang diperoleh studi epidemiologi deskriptif. Ada 3 studi tentang epidemiologi ini:  

A. Studi Riwayat Kasus (Case History Studies)  

Dalam studi ini akan dibandingkan antara 2 kelompok orang, yakni kelompok yang terkena penyebab penyakit dengan kelompok orang yang tidak terkena (kelompok kontrol). Contoh : Ada hipotesis yang menyatakan bahwa penyebab utama kanker paru-paru adalah rokok. Untuk menguji hipotesis ini diambil sekelompok orang penderita kanker paru-paru. Kepada penderita ini ditanyakan tentang kebiasaan merokok. Dari jawaban pertanyaan tersebut akan terdapat 2 kelompok, yakni penderita yang mempunyai kebiasaan merokok dan penderita yang tidak merokok. Kemudian kedua kelompok ini diuji dengan uji statistik, apakah ada perbedaan yang bermakna antara kedua kelompok tersebut.    

B. Studi Kohort (Kohort Studies)  

Dalam studi ini sekelompok orang dipaparkan (exposed) pada suatu penyebab penyakit (agent). Kemudian diambil sekelompok orang lagi yang mempunyai ciri-ciri yang sama dengan kelompok pertama tetapi tidak dipaparkan atau dikenakan pada penyebab penyakit. Kelompok kedua ini disebut kelompok kontrol. Setelah beberapa saat yang telah ditentukan kedua kelompok tersebut dibandingkan, dicari perbedaan antara kedua kelompok tersebut, bermakna atau tidak. Contoh : Untuk membuktikan bahwa merokok merupakan faktor utama penyebab kanker paru-paru, diambil 2 kelompok orang, kelompok satu terdiri dari orang-orang yang tidak merokok kemudian diperiksa apakah ada perbedaan pengidap kanker paru-paru antara kelompok perokok dan kelompok non perokok.  

C. Epidemiologi Eksperimen  

Studi ini dilakukan dengan mengadakan eksperimen (percobaan) kepada kelompok subjek kemudian dibandingkan dengan kelompok kontrol (yang tidak dikenakan percobaan). Contoh : untuk menguji keampuhan suatu vaksin, dapat diambil suatu kelompok anak kemudian diberikan vaksin tersebut. Sementara itu diambil sekelompok anak pula sebagai kontrol yang hanya diberikan placebo. Setelah beberapa tahun kemudian dilihat kemungkinan-kemungkinan timbulnya penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin tersebut, kemudian dibandingkan antara kelompok percobaan dan kelompok kontrol.  

Sumber : Buku Kesehatan Masyarakat (Ilmu dan Seni)
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Tentang Saya Ji

Foto Saya
hey yow... salam kenal nah ^_^! Saya Dheo dari Kendari. Selamat Datang di Blog-ku! Semoga Ko Nyaman...

Tamu Wajib Lapor


ShoutMix chat widget

Status Seekor Rakyat

 

Label

Entri Populer

 

Apa Kabar Kendari?

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger